Loading...

Minggu, 27 November 2011

SURGA SEBAGAI UTOPIA YANG DINYATAKAN (sebuah kajian Tesos Gregory Baum)

Pendahuluan
          Berbicara tentang agama adalah hal yang tidak mudah.  Hal tersebut karena berbicara tentang agama tidak hanya mengenai sebuah definisi, namun berbicara tentang suatu eksistensi yang luas dan dalam. Munculnya istilah “sains tentang agama” yang dibicarakan oleh Durkheim yaitu ilmu pengetahuan yang menjadikan agama sebagai obyek materialnya”[1], menunjukan bagaimana orang berusaha untuk memahami agama yang luas dan dalam tersebut.  Dalam buku ini pula Durkeim mencoba menggambarkan perkembangan agama dari yang mendasar sampai bentuknya yang sekarang. Ada banyak sekali pandangan para ahli tentang agama, misalnya menurut Hegel, Agama bisa dikatakan sebagai sumber keterasingan (alienasi), karena Allah yang ada di dalam PL digambarkan terpisah dari kehidupannya di dunia, sebagai sesuatu yang asing, Allah bekerja di atas dan di luar sejarah, Iamemerintah dari atas dan hanya kadang-kadang campur tangan dalam sejarah. hal ini membawa manusia terasing dari alam, dari dirinya sendiri dan dari sesamanya. Marx Waber sebaliknya melihat agama dari sisi sosial dan institusi lalu menilai agama sebagai produk keterasingan.
          Kalau berbicara tentang agama saja sudah merupakan hal yang berat, maka berbicara tentang ajaran-ajaran agama ( tertentu ) lebih menyulitkan lagi. Hal-hal asasi ( dibaca : dogma) dalam ajaran agama merupakan sesuatu yang sangat diimani kebenarannya dan  karena itu di pegang erat sebagai pedoman dari menjalankan perilaku keagamaan. Namun tentu saja ajaran-ajaran tersebut tidak lepas pula dari analisa bahkan kritik.
Salah satu kritik sekaligus refleksi tentang ajaran-ajaran agama khususnya yang ditujukan kepada kekristenan adalah yang disampaikan oleh  Gregory Baum mengenai Surga Sebagai Utopia yang Dinyatakan (Heaven As Revealed Utopia). Baum berusaha untuk mengkritisi konsep tentang Kerajaan Allah dan pengharapan hidup kekal sebagai utopia yang diimani dalam kekristenan, dan dampaknya bagi kehidupan sosial.
          Kata Utopia berasal dari bahasa Yunani “ού” yang berarti tidakdan  “τόπος” yang berarti daerah atau tempat. Penggunaan paling modern mengasumsikan istilah "Utopia" sebagai tempat yang sempurna dan bukan tempat yang mengandung arti ketiadaan. [2] Utopia, dalam arti luas dan umumnya, menunjuk ke sebuah masyarakat hipotetis sempurna. Dia juga digunakan untuk menggambarkan komunitas nyata yang didirikan dalam usaha menciptakan masyarakat di atas. Kata sifat utopis digunakan untuk merujuk ke sebuah proposal yang baik namun (secara fisik, sosial, ekonomi, atau politik) tidak mungkin terjadi, atau paling tidak merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan. Utopia dapat berupa idealisme atau praktis, namun istilah ini telah digunakan sebagaikonotasi optimis, idealis, tak mungkin kesempurnaan. Utopia sering juga dikontraskan dengan distopia yang tidak diiinginkan (anti-utopia) dan juga utopia satirikal.
          Istilah Utopia ini kemudian menjadi nama sebuah masyarakat ideal, diambil dari judul buku yang ditulis tahun 1516 oleh Sir Thomas More menjelaskan tentang sebuah pulau fiksi di samudera atlantik, memiliki sistem hukum sosial politik sempurna. Istilah ini dipakai untuk menyatakan sebuah masyarakat yang berusaha menciptakan masyarakat ideal, dan masyarakat fiksi dalam sastra. Utopia sering digunakan sebagai peyoratif, merujuk pada ideal unrealistik yang mustahil untuk dicapai. [3]

Dasar Doktrin Eskatologi (kehidupan kekal)
Menurut Baum, Doktrin tentang kehidupan kekal muncul karena adanya ketakutan terhadap kematian pribadi. Pandangan para bapak gereja sesuai dengan tradisi kuno yaitu bahwa setelah kematian, jiwa akan berpisah dengan raga dan akan bertemu dengan Tuhan untuk mengalami penghakiman tertentu. Doktrin kehidupan kekal dipahami secara  eksklusif dalam kerangka nasib, dimana hanya menunggu secara individual sampai kematian menjemput. Orang Kristen diyakini sedang berziarah dalam hidup ke arah nasib setelah kematian tubuh.
Namun kemudian pandangan ini berubah pada zaman modern, dimana  umat Kristen tidak lagi menganggap atau mengalami diri mereka sebagai peziarah. Sebaliknya, umat menganggap masyarakat dimana mereka berada, termasuk gereja di dalamnya, sebagai elemen yang ikut ambil bagian dalam rencana keilahian (divine plan) yang mengurangi perjalanan (petualangan) personal dari kelahiran sampai kematian. Gereja dan masyarakat adalah panggung yang yang tidak berubah dimana orang mengerjakan keselamatan pribadi mereka. Walau begitu kematian tetap dianggap menjadi akhir dari perjalanan dan keselamatan menjadi janji yang seseorang dapatkan sebagai kebahagiaan setelah kematiannya.
Pengaruh individualisme dalam budaya sekuler. juga mengakibatkan orang fokus pada kematian. Kematian menurut Heidegger akan muncul dalam seluruh kehidupan manusia dan menghasilkan penderitaan metafisis yang kemudian mengungkapkan sifat dasar manusia. Menurut Peter Berger, penderitaan metafisis ini, ketakutan akan kematian dan kengerian ini adalah yang menghasilkan kekuatan yang membuat orang mencari dunia yang aman dan stabil. Yang terjadi kemudian adalah manusia menciptakan simbol-simbol suci yang melegitimasi janji ketertiban dan keamanan masa depan. Agama kemudian diciptakan sebagai jawaban atas kematian pribadi dan jawaban atas kecemasan yang menghasilkan kekuatan.

Sikap Terhadap Kematian yang bergantung pada Imajinasi Masa Depan
Baum melihat bahwa sikap terhadap kematian sangat dipengaruhi oleh imajinasi seseorang tentang masa depan. Misalnya seorang yang mau mati di medan perang. Menurut Baum, orang-orang (di era nasionalisme dan konflik-konflik yang menyertainya) yang maju dalam peperangan diselimuti dengan imajinasi tentang masa depan dan perkembangan bangsa dan negara mereka. Hal ini membuat mereka tidak takut untuk mati ketika dihadapkan dengan kematian dalam perjuangan seperti ini. Baum mengutip yang dikatakan oleh Herbert Marcuse  “orang dapat mati tanpa kecemasan jika mereka tahu bahwa apa yang mereka cintai dilindungi dari kesengsaraan dan keterlupaan.” Dengan demikian, jika objek yang dicintai dilindungi dari bahaya dan kesejahteraannya dijamin maka kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi kematian bukanlah sumber kesedihan. Tetapi jika kita mengasihi diri kita sendiri, dan imajinasi masa depan kita dilingkarkan pada kesejahteraan pribadi kita sendiri maka kematian menjadi sesuatu yang ditakuti.
Pernyataan kritis Marcuse ini jika diterapkan dalam iman Kristen maka akan berbunyi “Jika kita merindukan kerajaan Allah dan kemenanganNya atas iblis (kejahatan) dan semua musuh-musuh kehidupan dan percaya bahwa di dalam Kristus kemenangan ini terjamin, maka apa yang kita cintai dilindungi dan membuat kita tidak sulit untuk menerima kematian”.  Dengan melihat hal ini, Baum menyimpulkan bahwa ajaran Kristen tentang hidup yang kekal bukan membuat seseorang fokus pada kematian mereka sendiri dan kuatir tentang apa yang terjadi kepada mereka setelah mereka mati, tetapi lebih sebagai kekuatan yang membebaskan mereka untuk lebih saling mencintai dan menimbulkan kerinduan untuk berdamai dengan orang lain. orang tidak lagi berkonsentrasi pada surga mereka sendiri, tetapi ajaran mengenai kerajaan Allah ini mengajak orang untuk melupakan diri mereka sendiri, untuk bersukacita dalam komunitas kristen. Beberapa penulis rohani kontemporer juga menganggap penting kehidupan pribadi bersama Allah sebagai dasar bagi suatu kehidupan yang tidak akan pernah mati. Mereka memahami kehidupan pribadi ini sebagai partisipasi dalam masyarakat.

Makna Utopia Dalam Teori dan Filsafat Sosial
Pada abad ke-20, para Teolog melakukan dialog dengan Sosiologisehingga memungkinkan para Teolog Kristen untuk mendapatkan kembali pemahaman eskatologi yang memelihara pribadi dan dialektika sosial, serta memberikan ajaran utopis Kristen yang memberi daya dorong.
          Ada 2 ahli yang dibicarakan dalam bagian ini yaitu Karl Mannheim dan Ernest Bloch. Karl Mannheim memakai frase “Injil sebagai Utopia”.Ia menawarkan untuk membantu kita membedakan istilah ideologi dan utopia. Sosiologi pengetahuan ini juga membuat kita belajar untuk mendeteksi kecenderungan utopis dalam agama Kristen. Dengan ini kita menemukan alat-alat konseptual untuk mengevaluasi imajinasi keagamaan dari masa depan seseorang dan untuk mendeprivatisasikan ajaran gereja mengenai hidup kekal.
           Ernst Bloch telah menerbitkan dua studi mengenai semangat utopia yang salah satunya berhubungan dengan doktrin Kristen mengenai Kerajaan Allah. Bloch memakai tokoh Thomas Muenzer untuk menggambarkan bagaimana hubungan antara kehidupan kekal Kristen dengan sisi politik dunia kekinian. Bloch mengatakan bahwa ajaran Kristen tentang kehidupan kekal, dalam bentuk apapun, memiliki arti politik dan dalam beberapa kasus, bahkan memiliki efek politik. Bloch  menampilkan semangat Muenzer sebagai daya pendorong untuk visi eskatologis masa depan. Bagi Bloch, Muenzer tidak dapat dipisahkan dari ia sebagai tokoh pemberontak politik dan juga sebagai tokoh agama. Muenzer memperhatikan keadilan sosial ketika ia sangat prihatin dengan kemuliaan Allah, dan ia tetap religius ketika ia melampiaskan kebencian kepada kelas yang berkuasa di gereja dan masyarakat. Inti pengajaran Muenzer adalah pengharapan eskatologis bahwa Tuhan sudah dekat dan keputusan ilahi telah dinyatakan atas masyarakat yang berdosa dan Tuhan akan menunjukkan kemenanganNya dalam membebaskan umatnya dari tekanan dan ketidakadilan.

Bloch membahas  topik yang sentral dalam karya filosofisnya, yaitu peran kreatif yang dimainkan oleh mimpi, puisi, dan harapan-harapan keagamaan dalam pembuatan sejarah. Baginya sejarah mempunyai asal dalam imajinasi manusia. Kenyataannya belum selesai, masih dalam pembuatan. Masa depan dinilainya tidak pernah dibuat menurut hukum tetap; masa depan tetap terbuka, hal itu dihasilkan oleh sebuah proses yang melibatkan kebebasan orang dan imajinasi mereka. Bloch menulis tentang dunia yang belum selesai melahirkan masa depan, tentang proses yang tersembunyi yang mana kekuasaan hadir dalam realitas sekarang ini diproyeksikan ke masa depan, dan tentang peranan harapan dalam mengarahkan penciptaan yang baru.
Bloch membedakan utopia menjadi 2 yaitu utopia yang konkrit dan yang abstrak. utopia abstrak ( peyoratif ) membuat manusia menjadi pasif dan hanya menunggu datangnya apa yang ia harapkan. Sedangkan utopia konkrit ( praksis ) memberikan daya dorong bagi manusia untuk berusaha mewujudkan apa yang diharapkan dalam hidup kekinian. Utopia disebut sebagai utopia abstrak ( peyoratif ) ketika utopia tersebut membuat orang bersifat pasif, artinya hanya menanti perwujudan dari harapannya, tidak merasa mempunyai tanggung jawab untuk berusaha dalam mewujudkan harapan tersebut. Sikap yang pasif juga mendorong orang terlena dengan keadaannya (bersikap menerima, menyetujui dan mempertahankan keadaan walau sangat sulit), kehilangan kepekaan terhadap dunia sekitar, dan hilang kepedulian. Orang-orang seperti ini kemudian menjadi tidak kritis karena tidak merasa perlu memberikan sumbangsih bagi keadaan dunia sekarang. Utopia disebut sebagai utopia kongkrit ketika orang terlibat aktif dalam perwujudan harapannya, mendorong dirinya untuk berpartisipasi ditengah dunia, dan karenanya mempunyai kepekaan dalam memandang sesuatu, lalu membangun sikap kritis guna dapat memberikan sumbangan bagi dunia/masyarakat di mana dia hadir.

Kerajaan Allah sebagai utopia yang dinyatakan
Baum mengklaim bahwa ajaran gereja mengenai Kerajan Allah dan hidup abadi adalah sebuah Utopia yang dinyatakan. Amanat kerajaan yang sebagian hadir diantara kita dan masih sedang mendekat dalam segala kekuatannya, menawarkan  sebuah visi masa depan di mana orang-tinggal dalam keadilan dan kedamaian, menyatu dalam persahabatan dan penyembahan bersama kepada Tuhan yang misteri (ibadah keagamaan). Kerajaan Allah tidak dibayangkan sebagai penaklukan oleh sebuah dunia superior tetapi sebagai penyelesaian dari kebebasan yang siap-siap dimulai, sebagai perwujudan yang nampak darianugerah ketuhanan yang sekarang berpengaruh dalam upaya orang-orang untuk menciptakan persaudaraan dalam masyarakat.
Hal tersebut kemudian membuat orang-orang berpikir kritis mengenai institusi-institusi sekarang ini untuk (demi kerinduan) memperoleh keadaan sosial yang lebih adil dan setara. Karena itu amanat hidup abadi ini adalah sebuah Utopia (khayalan) yang konkrit (bukan sebuah mimpi yang abstrak) karena janji-janji ini dibuat agar kota sorgawi ini terus menerus memberi /membangkitkan pemikiran-pemikiran apa yang harusnya terjadi /berlaku pada saat ini untuk (supaya) membuat masyarakat lebih benar-benar manusiawi. Amanat eskatologikal ini memimpin pada aksi sosial. Dengan memahami amanat kerajaan Allah, akhirnya memberi kekuatan kepada manusia  untuk berbuat sesuatu.Dalam hal ini maka utopia kerajaan Allah ini adalah sebuh utopia konkrit, bukanlah yang abstrak. Ini bukan sekedar ideologi. Amanat ini tidak bernyawa (dan idiologikal) jika hanya dianggap sebagai doktrin. Amanat ini akan menjadi hidup dan terus hidup (dihidupkan) hanya ketika diijikan untuk memerintah /mengendalikan imajinasi gereja sebagai symbol dan kemudian (hingga) masuk kepada penyelamatan (penebusan) sejarah.
Baum mengangkat peran gereja dalam politik untuk menggambarkan peran Gereja dalam menghadirkan Utopia konkrit tersebut. Menurutnya, dalam hal ini gereja harus memainkan peran politik untuk membebaskan, gereja harus memainkan sebuah peran kritis, memeriksa makna-makna yang diadopsi dan mengevaluasi cita-cita (idealis) kehidupan manusia yang sedang diusulkan khususnya jika pergerakan pembebasan menjadi sukses dan mengambil alih peranan dalam negara tertentu. Gereja harus tetap mawas bahwa utopia keadilan sosial tidak bergantung pada ideology dari yang menang dan membelaatau mempertahankan kekuasaan namun  melawan tuntutan-tuntutan yang layak dari kaum miskin dan marginal. Menurut Baum, gereja harusmemasukan perhatian kritik social, menempatkan bobot institusionalnya pada sisi emansipasi, dan dengan tepat mengajarkan injil yang mengubah (bersifat transformis) maka orang-orang akan memilih apa yang mereka anggap sebagai bagian tanggung jawab dari tindakan politis.
Untuk dapat menjadi gereja yang mempunyai pengaruh dalam masyarakat, dan mempertahankan solidaritas dengan sesama, makamenurut Baum, Gereja harus tetap memiliki akses kepada roh yang menjaga spiritual tetap hidup dan yang mengirimkan spiritual bagi misi kebumiannya.
Kekristenan sudah seharusnya melihat doktrin kerajaan Allah dan hidup abadi dalam kacamata utopia kongkrit. Utopia seperti ini akan menjembatani apa yang menjadi iman Kristen dengan dunia (social kemasyarakan ) yang mana gereja hadir. Gereja Kemudian dapat memberikan sumbangannya untuk sesama, serta pemikiran-pemikiran ( tindakan-tindakan) yang kritis dalam melihat berbagai hal. Dari zaman Alkitab hingga sekarang ini, masih ditemukan orang-orang Kristen yang hidup dengan pandangan utopia abstrak. Misalnya, seorang yang sakit, namun tidak mau berupaya ke dokter karena beriman bahwa Tuhan akan menyembuhkan, atau, seorang siswa yang berdoa supaya dapat naik kelas namun tidak mau untuk belajar. Dewasa ini masih ada pula gereja yang melihat dunia tanpa sikap kritis, beranggapan bahwa segala ketimpangan social-ekonomi, persoalan lingkungan, kepemimpinan politik, sebagai hal-hal yang  harus diterima apa adanya, sebagai yang sudah seharusnya. Umat dididik untuk hanya menerima berbagai hal dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Memang kelompok menyadari bahwa sikap seperti itu tidak dilakukan oleh gereja secara keseluruhan karena ada pula gereja yang terlibat aktif dalam kepedulian lingkungan, sumbangan bagi orang miskin, dukungan bagi pemerintah dan programnya, dll. Dengan begitu maka  Pemahaman bahwa penantian akan Kerajaan Allah dan kehidupan nanti yang bersifat kongkrit kiranya dapat dijadikan bahan ajar ( khotbah ) bagi para pemimpin gereja (umat) sehingga membangun solidaritas umat yang inklusif, yang mampu untuk mewujudnyatakan Kerajaan Allah itu di dunia. Hal ini kemudian akan melahirkan misi yang baru, yang tidak hanya terbatas pada penambahan jumlah umat misalnya. Keterpanggilan untuk menjadikan “dunia ini menjadi lebih baik” adalah cara kita dalam menyatakan bahwa Kerajaan Allah itu sungguh ada dan nyata. Dengannya maka kita juga menunjukkan bahwa kehidupan kekal itu sudah menjadi bagian dalam dari kita.


KEPUSTAKAAN
Gregory Baum, Religion and Alienation (New York: Paulist Press,) 1975
____________, Faith and Doctrine; A Contemporary View (New York: Newman Press), 1969
Emile Durkheim, Sejarah Agama : T he Elementary Form of The Religion Life, (New York :Free Press),1992

http://id.wikipedia.org/wiki/Utopia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar